Minggu, 10 Maret 2013

obat 225x300 Perbedaan Obat Kimiawi dan Obat HerbalKembali ke alam (Back to nature), terapi alternatif atau terapi alami serta terapi herbal adalah istilah yang sering kita dengar, baik di media elektronik maupun cetak. Penayangan serta acara-acara ditelevisi yang terkait dengan pengobatan alternatif mendapat perhatian dan respon yang baik dari masyarakat. Hal ini terbukti dengan banyaknya praktek-praktek pengobatan alami seperti Pijat Refleksi, Akupuntur (Tusuk jarum), Akupresur (Pijat akupuntur/tusuk jari), Bekam atau Al Hijamah (pengeluaran darah kotor), Terapi Sengat Lebah, Terapi Lintah, Kiropraksi (pembenahan tulang belakang), serta terapi dengan ramuan tanaman obat (herbal ) yang selalu ramai didatangi orang-orang yang berharap kesembuhan dari terapi-terapi ”alternatif”tersebut.

Beberapa alasan yang membuat orang atau penderita penyakit memilih pengobatan Alternatif Alami tersebut adalah :
1. Sudah Bosan berobat secara Medis (kedokteran) dan belum mendapatkan kesembuhan.
2. Tidak mau atau takut dioperasi padahal dokter memvonis operasi untuk kasus Kanker, tumor, kista, batu ginjal, prostat dll.
3. Menghindari pengobatan medis (Penggunaan Obat Kimia) yang mempunyai efek samping terhadap tubuh jika dikonsumsi dalam waktu yang lama.
4. Pengobatan Alternatif Alami dipandang lebih aman bagi tubuh karena tidak menyebabkan efek samping karena menggunakan terapi dan bahan-bahan yang alami berupa tanaman obat serta jus buah dan sayuran. Untuk pengobatan terhadap suatu penyakit kita hendaknya juga tidak terlalu terpaku hanya mengandalkan obat-obatan kimia, karena banyak penyakit yang divonis dokter sulit disembuhkan “dokter angkat tangan” ternyata dengan obat herbal bisa disembuhkan. Berikut adalah perbedaan antara obat kimiawi dan obat alami,

Obat Kimia :
1 .Lebih diarahkan untuk menghilangkan gejala-gejala penyakitnya saja
2. Bersifat symtomatis yang hanya untuk mengurangi penderitaannya saja
3. Bersifat paliatif artinya penyembuhan yang bersifat spekulatif, bila tepat penyakit akan sembuh, bila tidak tepat akan menjadi racun yang berbahaya.
4. Lebih diutamakan untuk penyakit-penyakit yang bersifat akut (butuh pertolongan segera) seperti asma akut, diare akut, patah tulang, infeksi akut dan lain-lain.
5. Reaksi cepat, namun bersifat destruktif artinya melemahkan organ tubuh lain, terutama jika dipakai terus menerus dalam waktu yang lama.
6.Efek samping yang dapat ditimbulkan iritasi lambung dan hati, kerusakan ginjal, dan mengakibatkan lemak darah

Obat Herbal :
1. Diarahkan pada sumber penyebab penyakit dan perbaikan organ yang rusak
2.Bersifat rekonstruksi atau memperbaiki organ dan membangun kembali organ-organ, jaringan atau sel yang rusak
3. Bersifat kuratif artinya benar-benar menyembuhkan karena pengobatannya pada sumber penyakit
4. Lebih diutamakan untuk pencegahan penyakit, pemulihan penyakit,penyakit komplikasi menahun
5. Reaksi lambat tetapi bersifat konstruktif atau memperbaiki dan membangun kembalo organ-organ yang rusak
6. Efek samping hampir tidak ada, asal diramu oleh herbalis yang ahli dan berpengalaman. Kesehatan tidak segala-galanya tapi tanpa kesehatan segalanya menjadi tidak berarti, mudah-mudahan informasi tersebut bisa bermanfaat bagi kita semua.

sumber :  http://hutantropis.com/perbedaan-obat-kimiawi-dan-obat-herbal

Keunggulan Herbal

Posted by assoka On 08.36 | No comments
obat herbal 7 Keunggulan Obat Herbal 
Obat Herbal – Saat ini di seluruh dunia manusia semakin sadar akan pentingnya kembali ke alam untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Alam dari dulu sebenarnya telah menyediakan berbagai macam obat yang selama ribuan tahun dimanfaatkan manusia secara turun-temurun. Manusia modern-lah yang kemudian cenderung mengabaikan anugerah alam tersebut.
Dengan semakin meningkatnya kesadaran tersebut, riset-riset ilmiah pun kini semakin banyak diarahkan pada bahan-bahan alami. Obat-obatan herbal atau jamu yang diproses secara modern dan didukung hasil riset pun semakin banyak tersedia. Beberapa puluh tahun lalu, Anda tidak dapat membayangkan sedemikian banyaknya pilihan obat herbal modern yang kini ada di pasaran.
Apa saja keunggulan menggunakan obat herbal dibandingkan obat farmasi?

1. Tidak Ada Efek Samping jika dalam dosis normal

Obat herbal adalah produk alami yang ditemukan di alam dan benar-benar bebas dari semua jenis efek samping. Orang Indonesia telah berabad-abad meminum berbagai macam jamu tradisional dan belum pernah tercatat ada kasus efek samping yang mematikan. Namun Anda tetap perlu berhati-hati karena beberapa jenis jamu tradisional diproduksi tidak secara higienis dan bahkan dicampur zat-zat kimia sehingga berbahaya bagi tubuh. Dalam hal ini yang berbahaya bukan jamunya, namun kontaminasi jamur dan zat tambahannya. akan tetapi Kelebihan obat herbal dapat menyebabkan efek samping seperti halnya makanan, oleh karena itu dianjurkan untuk penggunaan herbal dalam dosis tradisional dan sedikit dikurangi.

2. Bebas toksin

Obat farmasi adalah racun. Anda tidak boleh mengkonsumsinya sembarangan.  Obat herbal bebas racun sehingga aman dikonsumsi siapa pun, bahkan seringkali memberikan efek meluruhkan racun dalam tubuh (detoksifikasi).

3. Mudah diproduksi

Obat herbal adalah hasil pengolahan yang sederhana atas akar, umbi, buah, bunga, kulit kayu dan bagian tanaman lainnya. Kesederhanaan prosesnya membuat pengolahan obat herbal tidak memerlukan teknologi canggih dan modal riset yang besar. Banyak obat herbal yang diproduksi oleh usaha rumah tangga yang dipasarkan dari pintu ke pintu. Berkat internet, kini distribusi obat herbal semakin mudah dan mendunia.

4. Menghilangkan akar penyebab penyakit

Obat herbal tidak hanya berkhasiat menyembuhkan gejala penyakit, tetapi juga menghilangkannya hingga ke akar penyebabnya. Hal ini karena efek obat herbal bersifat holistik (menyeluruh) sehingga tidak hanya berfokus pada penghilangan penyakit tapi juga pada peningkatan sistem kekebalan tubuh untuk melawan penyakit.

5. Bisa dibeli siapa saja dan di mana saja

Siapa pun boleh membeli obat herbal di mana pun. Anda tidak perlu resep dokter atau pergi ke apotik untuk membelinya. Namun, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter bila mengkonsumsi obat herbal bersamaan dengan obat farmasi karena dikhawatirkan terjadi interaksi obat.

6. Murah

Dibandingkan dengan obat-obatan farmasi, obat herbal relatif lebih murah. Hal ini karena obat herbal tidak perlu membayar biaya paten atau dana riset yang besar. Di masa mendatang, harga obat-obatan herbal bahkan dapat jauh lebih murah bila skala produksinya lebih efisien.

7. Multi-khasiat

Obat herbal dapat digunakan untuk pengobatan lebih dari satu penyakit. Habbatussauda (jintan hitam) bisa membantu menghilangkan asam urat, diabetes, migren, kanker sampai hepatitis. Bawang putih tidak hanya bersifat antivirus namun juga menurunkan kadar kolesterol dan menguatkan jantung. Banyak sekali bahan alami lainnya yang multi-khasiat seperti itu.

Sabtu, 09 Maret 2013

Pengertian Herbal

Posted by assoka On 08.25 | 1 comment
herbal medicine1 252x300 Apa Itu Herbal dan Pengobatan Herbal 

Pengertian Herbal
Istilah Herbal biasanya dikaitkan dengan tumbuh-tumbuhan yang tidak berkayu atau tanaman yang bersifat perdu. Dalam dunia pengobatan, istilah herbal memiliki makna yang lebih luas, yaitu segala jenis tumbuhan dan seluruh bagian-bagiannya yang yang mengandung satu atau lebih bahan aktif yang dapat dipakai sebagai obat (therapeutic). Misalnya mengkudu hutan (Morinda citrifolia) yang mengandung Morindin, bahan aktif anti kanker; Pegagan (Centela Asiatica) yang mengandung Asiaticoside yang berguna untuk masalah kulit dan meningkatkan IQ.

Herbalogi
Herbalogi berasal dari kata ‘Herba’ yang berarti tumbuhan dan ‘logi’ atau ‘logos’ yang berarti ilmu. Dengan demikian Herbalogi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkait dengan tumbuh-tumbuhan. Dalam dunia pengobatan herbalogi dipahami sebagai sebuah konsep atau metode pengobatan dengan menggunakan bahan-bahan yang berasal dari herba (tanaman obat).

Konsep Pengobatan Herbal
1.Pendekatan yang dipakai bersifat holistic. Tubuh manusia dipandang memiliki suatu system harmoni yang selalu seimbang; tidak berfungsinya satu bagian tubuh menyebabkan ketidakseimbangan dibagian tubuh yang lain. Jika tubuh tidak mampu melakukan penyeimbangan kembali seperti keadaan semula, maka akan tibul suatu penyakit. Salah satu tujuan dari pengobatan herbal adalah membantu tubuh mengembalikan keharmonisan atau keseimbangan tubuh.

2.Selain dari faktor eksternal, pengobatan herba memahami bahwa dari dalam diri manusia terdapat kekuatan penyembuh yang datang dari faktor Spiritual, emosional, mental, dan fisikal. Kekuatan penyembuh tersebut dalam dunia medis modern dikenal dengan Sistem Imun.

3.Sistem Imun menjadi penentu utama sehat atau sakitnya seseorang. Herbalogi menaruh perhatian besar terhadap masalah imunity tersebut. Sehingga tujuan pengobatan adalah diarahkan untuk “Improve and maintain body immune system against external pathogen and pressure”.

4.Menggunakan semurni-murninya bahan dari herba sebagai obat, tanpa tambahan zat kimia sintetis.
Perbedaan Pengobatan Herbal dengan Pengobatan Kimia Sintetis
Konsep Pengobatan Herbal sangat berbeda dengan konsep pengobatan Modern (yang biasanya menggunakan Kimia Sintetis sebagai obat). Misalnya dalam pengobatan kimia sintetis penyebab penyakit adalah virus, bakteri, dan pathogen (mikro organisme pembawa penyakit); sedangkan dalam pengobatan herbal, penyebab penyakit adalah lemahnya system imun.
Berikut adalah table perbedaan antara kedua konsep pengobatan tersebut:
Pengobatan Kimia Sintetis Pengobatan Herbal

OBAT KIMIA                                                                            OBAT HERBAL
1. Berasal dari Barat —————————————- Berasal dari Timur
2. Menggunakan bahan kimia sintetis ——————–Menggunakan bahan alamiah/organik
3. Daya keterserapan 50% – 70% ————————–Daya keterserapan 90%
4. Bersifat antibiotic (racun bakteri)———————-Bersifat probiotik
5. Menurunkan system imun——————————-Meningkatkan system imun
6. Mengobatai gejala / Symptomatic——————— Holistic / mengobati sumber penyakit
7. Menimbulkan efek samping——————————Tidak ada efek samping
8. Khasiat lebih cepat tetapi destruktif——————–Khasiat lambat tetapi konstruktif
9. Kebanyakan mengandung zat haram——————-Halal karena murni dari tumbuhan
Disarikan dari kursus NATURAL HEALING COURSE Skill I
oleh: Abu Ameera

sumber : http://hutantropis.com/apa-itu-herbal-dan-pengobatan-herbal
Alami Belum Tentu Aman
Berkebalikan dengan perkembangan zaman, pola hidup kebanyakan orang semakin hari semakin kurang baik. Salah satu faktornya adalah tekanan kehidupan yang sangat tinggi sehingga sebagian besar orang membiasakan kehidupan serba instan. Hal ini tentu saja mempengaruhi kesehatan mereka. 
 
Kehidupan serba instan ini misalnya terlihat pada kebiasaan menggunakan kendaraan yang menyebabkan jarangnya kegiatan berjalan kaki. Makanan yang dikonsumsi pun banyak yang merupakan makanan instan. Kecepatan dan rasa merupakan fokus utama, tanpa memikirkan efek jangka panjang maupun gizi yang perlu diserap.

Tak ayal, hal tersebut menimbulkan penyakit yang tak pandang usia dan pada akhirnya membawa banyak orang pada berbagai jenis pengobatan, mulai dari pengobatan medis, pengobatan alternatif, bahkan hingga yang sifatnya supranatural pun dicoba. Seiring dengan ini, konsumsi obat-obat sintetik pun sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, penggunaan obat tersebut kini menimbulkan keraguan disebabkan munculnya efek samping yang tidak diinginkan. Hal ini mendorong adanya paradigma untuk memaksimalkan pengobatan ‘kembali kepada alam’. Obat herbal, demikian istilahnya di masyarakat. 

Namun, tahukah Anda bahwa obat herbal tidak selamanya baik bagi kesehatan?

Let’s check it out!

Istilah herbal biasanya diidentikan dengan tumbuh-tumbuhan yang tidak berkayu atau dengan kata lain perdu. Dalam dunia pengobatan, istilah herbal berkenaan dengan segala jenis tumbuhan dan atau seluruh bagian-bagiannya yang mengandung satu atau lebih bahan aktif yang dapat digunakan sebagai obat (therapeutic). Contohnya adalah mengkudu hutan atau Morinda citrifolia dengan kandungan moridin (berguna sebagai bahan aktif anti kanker) dan pegagan atau Centela asiatica dengan kandungan asiaticosidem (berguna untuk mengatasi permasalahan kulit dan meningkatkan IQ). Pengertian obat herbal adalah obat dari tumbuhan yang diproses atau diekstrak sedemikian rupa sehingga menjadi serbuk, pil, atau cairan. Dalam proses pembuatannya, obat herbal tidak menggunakan zat kimia sintetik . 

Berdasarkan sudut pandang farmakognosi, obat herbal dapat dibagi menjadi tiga. Kelompok pertama adalah jamu. Jamu merupakan tumbuhan yang diekstrak dan dijadikan sebagai obat, namun belum teruji secara klinis maupun pra-klinis. Pada umumnya jamu dipilih karena resep tradisional turun-temurun untuk kesehatan ataupun pengobatan. Yang kedua adalah obat herbal terstandar. Kelompok ini sudah terspesifikasi, maksudnya yang terdapat di dalam obat tersebut adalah senyawa penting untuk penyakit tertentu saja sehingga lebih efektif untuk pengobatan. Selain itu, obat ini sudah teruji secara pra-klinis atau dengan kata lain sudah diuji di dalam sel makhluk hidup lain (hewan). Yang ketiga adalah fitofarmaka. Kelompok ini paling baik kualitasnya karena dibuat dengan pengolahan senyawa tertentu untuk pengobatan tertentu pula sehingga zat-zat yang tidak perlu tidak akan ikut terkonsumsi. Obat ini telah teruji secara klinis, yakni sudah pernah diujicobakan pada manusia sehingga kualitasnya terjamin .

Pada dasarnya, pengobatan dengan obat herbal dilakukan melalui pendekatan yang bersifat holistik, yaitu tubuh manusia dipandang memiliki suatu sistem harmoni yang selalu seimbang . Apabila ada salah satu bagian tubuh bermasalah, akan timbul pula masalah pada bagian tubuh yang lain. Obat herbal di sini bekerja dengan cara memberi energi pada organ tubuh dan kelenjar tertentu serta menyeimbangkan kondisi tubuh sehingga membantu mengembalikan keharmonisan dan keseimbangan tubuh secara keseluruhan. Dalam aplikasinya, pengobatan dengan obat herbal diarahkan untuk menjaga dan mempertahankan sistem imun tubuh untuk melawan patogen (bibit penyakit) dari luar.

Banyak orang beranggapan bahwa obat herbal lebih aman daripada obat sintetik karena efek sampingnya lebih kecil. Dari sini timbul anggapan bahwa mengonsumsi obat herbal dalam jangka panjang tidak akan menimbulkan komplikasi dalam tubuh kita. Betulkah demikian?

Ketidaktepatan menggunakan obat herbal sering kali dijumpai saat ini, baik disebabkan kesalahan informasi yang ada, maupun anggapan yang keliru mengenai penggunaan obat herbal sehingga tidak jarang justru obat herbal malah menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan. Harapan untuk sembuh pun sirna karena timbul masalah-masalah baru. 

Dalam hal ini, ada beberapa contoh tanaman obat yang perlu diperhatikan, misalnya daun seledri (Apium graveolens). Tanaman ini mampu menurunkan darah tinggi, namun apabila dosisnya berlebih dapat menurunkan tekanan darah secara drastis. Oleh karena itu, jangan mengonsumsi lebih dari satu gelas perasan seledri untuk sekali minum. Selain itu, minyak dari tanaman jarak (Oleum recini) dapat digunakan untuk mengobati masalah pencernaan, namun jika penggunaannya tidak terukur akan menyebabkan iritasi saluran pencernaan. Lain pula dengan keci beling (Strobilantus crispus), tanaman ini dapat mengobati batu ginjal, namun apabila dikonsumsi lebih dari 2 gram sekali minum dapat menimbulkan iritasi saluran kemih . Pada beberapa pasien yang mengonsumsi tanaman tersebut untuk pengobatan batu ginjal, ditemukan adanya sel-sel darah merah dengan jumlah melebihi batas normal pada urinnya. Hal ini mungkin disebabkan daun kecibeling merupakan diuretik kuat sehingga dapat menimbulkan iritasi pada saluran kemih.  Contoh lainnya adalah buah pare. Seorang pria penderita diabetes mendadak mengalami impotensi setelah rutin mengonsumsi buah pare untuk menurunkan gula darahnya. Setelah dilakukan penelusuran, ternyata hal itu disebabkan buah pare yang dikonsumsi adalah mentah dan overdosis . Hal ini juga harus diperhatikan pada pengonsumsian buah mahkota dewa dan temu putih yang dijadikan andalan untuk penumpas sel kanker. Pasien yang mengonsumsi secara berlebihan mengalami sakit tenggorokan mendadak dan juga mengalami pendarahan. Faktanya, biji mahkota dewa memang tidak boleh dikonsumsi karena sangat beracun. Selain itu, buah mahkota dewa dan temu putih tidak boleh diminum selagi haid karena akan memperhebat pendarahan. Hal ini berkaitan dengan khasiatnya yang memang menumpas sel kanker sekaligus menggerus dinding rahim . Fenomena lain terjadi pada Ginkgo, herbal yang makin laris untuk memompa daya ingat itu juga tidak aman seratus persen. Terapi herbal itu hanya akan efektif jika penurunan daya ingat disebabkan oleh melemahnya aliran darah ke otak. Kondisi seperti ini bisa diperbaiki dengan konsumsi Ginkgo. Bagaimana jika melemahnya daya ingat disebabkan oleh faktor lain, misalnya ketidakseimbangan hormonal? Tentu saja hal ini dapat menimbulkan efek negatif. 

Selanjutnya, tanaman echinacea yang biasa digunakan untuk meningkatkan daya tahan tubuh melawan flu sebaiknya tidak dikonsumsi oleh mereka yang mempunyai gangguan autoimun karena akan meningkatkan kerja sistem imun yang sudah terlalu aktif. 

Suatu tanaman dapat dikategorikan sebagai tanaman obat jika telah melewati beberapa uji dan penelitian seperti penelitian fisik, kimiawi, farmakologis, biologis, dan uji toksisitas (racun). Tanaman obat yang tidak memenuhi ketentuan di atas, yaitu bahan bakunya belum terstandarkan, mudah tercemar, higroskopis, dan voluminous terhadap berbagai mikroorganisme dikatakan belum layak menjadi obat yang dapat dikonsumsi. 

Pada beberapa obat yang berasal dari tumbuhan, bisa jadi kandungan zat aktifnya sangat sedikit. Maka tidak menutup kemungkinan ada pula senyawa selain zat aktif yang ikut terkonsumsi pula. Zat tersebut tidak berkhasiat, namun dapat pula mengganggu aktivitas biologis atau bahkan toksik untuk tubuh. Setiap tanaman memiliki jumlah dan jenis kandungan kimia berbeda. Kandungan beberapa zat kimia tertentu pada obat herbal dapat pula menimbulkan efek samping dan sifat toksik. Efek samping itu bisa disebabkan oleh zat itu sendiri maupun kontaminan (seperti pestisida dan zat pengotor) atau zat sintesis yang ditambahkan. 

Pada tanaman obat sebetulnya terdapat pula penangkal atau penetral efek samping yang mungkin timbul. Hal ini terlihat misalnya pada kunyit. Kunyit memiliki zat yang merugikan tubuh, namun di dalam kunyit ada pula zat yang menekan dampak negatif tersebut . Lain halnya dengan tebu, meskipun perasan air tebu memiliki senyawa saccharant yang berfungsi sebagai anti diabetes, namun penderita diabetes (kencing manis) tetap saja tidak boleh mengonsumsi gula hasil pemurnian tebu .  Jadi, meskipun setiap tumbuhan ada zat penangkal efek sampingnya, perlu diperhatikan pula beberapa hal lain dari tumbuhan itu sendiri seperti jenis dan kandungan zat kimia tertentu yang ada di dalamnya.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengonsumsi obat herbal. Salah satunya adalah konsentrasi obat herbal. Jika setelah diekstrak konsentrasinya lebih pekat, maka yang perlu dikonsumsi hanya sedikit. Beberapa obat herbal dapat rusak atau mengalami penguraian oleh panas, cahaya, dan udara (bereaksi dengan oksigen). Waspadalah, apabila belum lebih dari satu jam mengonsumsi herbal muncul gejala mual, diare, pusing, dan berkeringat deras! Hentikan konsumsi obat herbal dan segera konsultasikan kepada ahli herbal atau dokter. 

Efek toksik obat herbal dapat dihindari jika cara pemakaiannya benar dan sudah teruji secara praklinik serta klinik. Selain itu, standardisasi obat herbal lebih tepat dilakukan jika diterapkan kaidah “Cara yang Benar” pada proses pembibitan hingga produksi. Bukan hanya itu, pemerintah dalam hal ini BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) harus berperan aktif dalam pengawasan. Khasiat dan keamanan obat herbal harus sudah teruji sebelum obat-obat tersebut mendapat izin edar. Hingga kini, jumlah obat herbal terstandar diketahui ada 19 produk dan fitofarmaka baru 5 produk . Oleh karena itu, telitilah sebelum membeli serta harus pintar dan selektif dalam mengonsumsi. Terutama terhadap kuantitas obat herbal, jenis, zat yang terkandung, dan efek lainnya terhadap tubuh. 

sumber: http://www.chem.itb.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&catid=1%3Anews&id=45%3Aobat-herbal&lang=en

Blogroll

About